Senja merambat di pinggir kacamata Rachel, sedikit menyilaukan pandangan yang sejak tadi berusaha menghindari dari tatapan lelaki di depannya.
Selama beberapa minggu terakhir, lelaki itu tidak berhenti menghubunginya dan terus berusaha untuk menemuinya.
Seberapa pun kerasnya ia berusaha mengelak.
Hingga pada akhirnya Rachel memutuskan menerima ajakan lelaki itu untuk bertemu dan membicarakan masalah yang terjadi di antara mereka.
Ia harus benar-benar menyelesaikan ini.
"Aku ingin kita memulai lagi semuanya dari awal", ucap lelaki itu.
"Aku tidak mengerti."
"I want you to stay with me."
"Diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi.
Tidak ada yang perlu di mulai.
Semuanya sudah berakhir."
Rachel berusaha keras meengendalikan debar di dadanya.
"Kamu bilang kamu tidak berencana untuk pergi cel."
"Kamu seharusnya tidak kembali, berbahagialah dengan dia."
"Aku bahagia denganmu!"
Lelaki itu mengenggam tangan Rachel.
Rachel menarik tangannya, tetapi lelaki itu mencengkramnya lebih erat.
"Kita ____" Rachel menahan sesak di dadanya yang seketika mucul kembali, mengacaukan suaranya, "_____ Aku dan kamu, tidak bisa memulainya seperti ini."
"Lalu bagaimana kita harus memulainya lagi? Katakan! Dan akan aku lakukan.
"Kamu tidak mengerti."
Rachel melepaskan tangannya dari genggaman lelaki itu dan beranjak dari kursinya, meninggalkan sepiring kecil ice cream chocolate yang belum tersentuh dan mulai mencair.
Senja memantul di meja kaca.
Lelaki itu tertunduk dan melihat wajahnya sendiri sebagai bayangan di meja.
Tatapan mata Rachel baru saja memukul dadanya dengan keras.
Tiba-tiba saja, ia merasa sangat lemah dan tidak bisa melangkah dari tempat duduknya untuk menahan Rachel agar ia tidak pergi.
Di kaki langit, semburat senja perlahan memudar dan tertelan oleh langit yang kelabu.
Sekelabu hati Rachel yang sedang mencoba untuk mengembalikan kesadarannya.
Sungguh, Rachel seharusnya tahu sejak awal, bahwa ia tidak bisa berlama-lama berada dalam hubungan seperti ini.
Bahkan, seharusnya ia tidak penah memulainya.
To be Continue on my Wattpad: ayuyunicorn
Thanks for reading :*
Rabu, 28 Juni 2017
Senin, 19 Juni 2017
Tolong buat aku lupa
Jelaskan padaku mengapa semua jadi serumit ini?
Aku tak tahu jika kamu tiba-tiba memenuhi sudut-sudut terpencil di otakku,
hingga memenuhi relung-relung hatiku.
Semua terjadi begitu cepat, tanpa teori dan banyak basa-basi.
Aku melihatmu, mengenalmu, lalu mencintaimu.
Sesederhana itulah kamu mulai mengusai hari-hariku.
Kamu jadi penyebab rasa semangatku.
Kamu menjelma jadi senyum yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
Iya, mungkin, aku jatuh cinta.
Entah kamu.
Semua kulakuan diam-diam.
Begitu rapi.
Hingga hatimu yang beku tak pernah berhasil cair.
Semua kusembunyikan.
Hingga perasaanmu yang tidak peka tetap saja tak peduli pada gerak-gerikku yang jarang tertangkap oleh sorot matamu.
Aku pandai menyembunyikan banyak hal hingga kau tak memahami yang sebenarnya terjadi.
Aku tidak bisa melupakanmu…. Sungguh!
Aku selalu ingat caramu menatapku.
Caramu mencuri perhatianku.
Kerutan matamu yang aneh, namun tetap terlihat memesona dalam pandanganku.
Hal-hal sederhana itu seakan-akan sengaja diciptakan untuk tidak dilupakan.
Tolong buat aku lupa, karena aku tak lagi temukan cara terbaik untuk menghilangkan kamu dari pikiranku.
Kita jarang punya kesempatan berbicara, berdua saja.
Rasanya mustahil.
Kamu dan aku berbeda, air dan api, dingin dan panas.
Tapi, aku selalu ingat perkataanmu,
“Hal yang mustahil di dunia ini hanyalah memakan kepala sendiri.”
Aku tersenyum ketika barisan kalimat itu kau kirimkan untukku.
Iya, harusnya aku tak perlu sesenang itu, karena mungkin kamu menulisnya tanpa perasaan, hanya untuk merespon perkataanku saja.
Rasanya menyebalkan jika aku tak mengetahui isi hatimu.
Kamu sangat sulit kutebak.
Kamu teka-teki yang punya banyak jawaban, juga banyak tafsiran.
Aku takut menerjemahkan isyarat-isyarat yang kau tunjukkan padaku.
Aku takut mengartikan kata-kata manismu yang mungkin saja tak hanya kau katakan untukku.
Aku takut memercayai perhatian sederhanamu yang kau perlihatkan secara terselebung.
Aku takut.
Aku takut.
Takut.
Semakin takut jika perasaan ini bertumbuh ke arah yang tak kuinginkan.
Tolong hentikan langkahku, jika memang segalanya yang kuduga benar adalah hal yang salah di matamu.
Tolong kembalikan aku ke jalanku dulu, sebelum aku mengganggu rute tujuanmu.
Ketahuilah, aku sedang berusaha melawan jutaan kamu yang mulai mengepul otakku, seperti asap rokok yang menggantung di udara.
Kamu seakan-akan nyata.
Aku tak percaya, ternyata kita bisa melangkah sejauh ini.
Dan selama ini juga, aku tak pernah berani mengatakan satu hal yang mungkin mengagetkanmu.
Aku mulai menyukaimu.
Diantara rindu yang selalu gagal kuungkapkan, didalam rasa canggung yang terkadang belum aku pahami.
Tolong buat aku lupa.
Lupa akan perasaanku kepadamu.
Lupa atas semua yang pernah terjadi.
Iya, aku berhenti.
Aku melupakanmu.
Aku tak tahu jika kamu tiba-tiba memenuhi sudut-sudut terpencil di otakku,
hingga memenuhi relung-relung hatiku.
Semua terjadi begitu cepat, tanpa teori dan banyak basa-basi.
Aku melihatmu, mengenalmu, lalu mencintaimu.
Sesederhana itulah kamu mulai mengusai hari-hariku.
Kamu jadi penyebab rasa semangatku.
Kamu menjelma jadi senyum yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
Iya, mungkin, aku jatuh cinta.
Entah kamu.
Semua kulakuan diam-diam.
Begitu rapi.
Hingga hatimu yang beku tak pernah berhasil cair.
Semua kusembunyikan.
Hingga perasaanmu yang tidak peka tetap saja tak peduli pada gerak-gerikku yang jarang tertangkap oleh sorot matamu.
Aku pandai menyembunyikan banyak hal hingga kau tak memahami yang sebenarnya terjadi.
Aku tidak bisa melupakanmu…. Sungguh!
Aku selalu ingat caramu menatapku.
Caramu mencuri perhatianku.
Kerutan matamu yang aneh, namun tetap terlihat memesona dalam pandanganku.
Hal-hal sederhana itu seakan-akan sengaja diciptakan untuk tidak dilupakan.
Tolong buat aku lupa, karena aku tak lagi temukan cara terbaik untuk menghilangkan kamu dari pikiranku.
Kita jarang punya kesempatan berbicara, berdua saja.
Rasanya mustahil.
Kamu dan aku berbeda, air dan api, dingin dan panas.
Tapi, aku selalu ingat perkataanmu,
“Hal yang mustahil di dunia ini hanyalah memakan kepala sendiri.”
Aku tersenyum ketika barisan kalimat itu kau kirimkan untukku.
Iya, harusnya aku tak perlu sesenang itu, karena mungkin kamu menulisnya tanpa perasaan, hanya untuk merespon perkataanku saja.
Rasanya menyebalkan jika aku tak mengetahui isi hatimu.
Kamu sangat sulit kutebak.
Kamu teka-teki yang punya banyak jawaban, juga banyak tafsiran.
Aku takut menerjemahkan isyarat-isyarat yang kau tunjukkan padaku.
Aku takut mengartikan kata-kata manismu yang mungkin saja tak hanya kau katakan untukku.
Aku takut memercayai perhatian sederhanamu yang kau perlihatkan secara terselebung.
Aku takut.
Aku takut.
Takut.
Semakin takut jika perasaan ini bertumbuh ke arah yang tak kuinginkan.
Tolong hentikan langkahku, jika memang segalanya yang kuduga benar adalah hal yang salah di matamu.
Tolong kembalikan aku ke jalanku dulu, sebelum aku mengganggu rute tujuanmu.
Ketahuilah, aku sedang berusaha melawan jutaan kamu yang mulai mengepul otakku, seperti asap rokok yang menggantung di udara.
Kamu seakan-akan nyata.
Aku tak percaya, ternyata kita bisa melangkah sejauh ini.
Dan selama ini juga, aku tak pernah berani mengatakan satu hal yang mungkin mengagetkanmu.
Aku mulai menyukaimu.
Diantara rindu yang selalu gagal kuungkapkan, didalam rasa canggung yang terkadang belum aku pahami.
Tolong buat aku lupa.
Lupa akan perasaanku kepadamu.
Lupa atas semua yang pernah terjadi.
Iya, aku berhenti.
Aku melupakanmu.
Minggu, 18 Juni 2017
Thanks God
Dear God,
Thank you for creating such a magical piece known as a "smile".
It's indescribable, the feeling when someone smiles at you sincerely, and their eyes sparkle as they do so.
No matter how close, no matter how much of stranger, a sincere smile just melts the heart.
And thank you for creating another magical piece known as a "cry".
The feeling of seeing someone cry warms my heart, because it simply shows how fragile and connected we all are.
And, the feeling when I myself cry, it brings relief and appreciation to life.
I enjoy talking to you.
Thank you for creating such a magical piece known as a "smile".
It's indescribable, the feeling when someone smiles at you sincerely, and their eyes sparkle as they do so.
No matter how close, no matter how much of stranger, a sincere smile just melts the heart.
And thank you for creating another magical piece known as a "cry".
The feeling of seeing someone cry warms my heart, because it simply shows how fragile and connected we all are.
And, the feeling when I myself cry, it brings relief and appreciation to life.
I enjoy talking to you.
Rabu, 14 Juni 2017
Imagination
Pernahkan kamu berfikir, bagaimana seandainya kalau aku dan kamu bersama?
Apakah kita akan menjadi pasangan paling hebat di dunia?
Ataukah kita akan menjadi pasangan paling tidak waras di dunia?
Bukankah sebelum perasaan itu ada, aku baik-baik saja tanpa kamu
Dan kamu juga baik-baik saja tanpa aku?
Bukankah sebelum perasaan itu berubah, semuanya bergerak seperti biasa dan apa adanya?
Lalu jika yang mereka sebut ini cinta mengapa cinta membuatku mencintaimu?
Ketika pada saat yang sama kamu mencintai seseorang yang bukan aku?
Terlebih lagi aku mengenal sosok perempuan yang kamu cintai.
Apakah kita akan menjadi pasangan paling hebat di dunia?
Ataukah kita akan menjadi pasangan paling tidak waras di dunia?
Bukankah sebelum perasaan itu ada, aku baik-baik saja tanpa kamu
Dan kamu juga baik-baik saja tanpa aku?
Bukankah sebelum perasaan itu berubah, semuanya bergerak seperti biasa dan apa adanya?
Lalu jika yang mereka sebut ini cinta mengapa cinta membuatku mencintaimu?
Ketika pada saat yang sama kamu mencintai seseorang yang bukan aku?
Terlebih lagi aku mengenal sosok perempuan yang kamu cintai.
Selasa, 13 Juni 2017
You
I love you without knowing how, or when, or from where
I love you simply, without problems or pride
I love you with no reason
I love you in this way because I do not know any other way of loving
but this in which there is no I or you
So intimate that your hand upon my chest is my hand,
So intimate that when I fall asleep your eyes close.
I love you simply, without problems or pride
I love you with no reason
I love you in this way because I do not know any other way of loving
but this in which there is no I or you
So intimate that your hand upon my chest is my hand,
So intimate that when I fall asleep your eyes close.
Senin, 12 Juni 2017
Maaf
Belakangan ini aku sering sekali galau.
Bukannya aku menyesal telah membuatnya pergi, hanya saja ini pertama kalinya aku benar-benar menyakiti hati seseorang.
Bukan menyakitinya lagi bahkan mematahkan hatinya.
Mungkin aku perempuan yang sangat jahat, hanya itu yang aku sesali menyesal pernah menjadi jahat.
Atau mungkin karena entah aku sendiri yang masih terjebak pada rasa galauku.
Bisa jadi karena ada firasat lain yang akan datang dalam waktu dekat ini, aku tak tahu.
Tak tahu bagaimana aku ingin berbagi perasaanku.
Aku ingin mengungkapkan semua kegetiranku saat ini.
Aku masih merasakan debar jantungnya, nyawanya, sentuhan tangannya, lirikan matanya, gertakan marahnya, rengek tangisnya.
Dia pergi karena aku, aku yang memintanya pergi.
Tak tahu harus bagaimana lagi untuk melenyapkannya dari hidupku.
Takdir bicara lain.
Dia tak pernah lagi mau menemuiku.
Jangankan bertemu, tak sengaja berpapasan saja dia sama sekali tidak ingin menatapku.
Mungkin dia sudah sangat membenciku,
"Ya kau berhasil Ayu" seolah ada yang membisikan kalimat itu ke telingaku tetapi ini justru membuatku sakit.
Akan tetapi jika difikir kembali semua hal ini bisa terjadi karena kesalahan kami.
Aku tidak ingin menyalahkannya hanya saja rasa egois dan ingin selalu dapat dimengerti terlalu kuat melekat pada diri kami berdua.
Aku pun tahu sejatinya manusia memiliki rasa egois tetapi tetap pada porsinya masing-masing.
Mungkin ini adalah cara terbaik bagi kami untuk berhenti saling menyakiti, menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah.
Padahal pernah sesekali aku memimpikannya bisa bersanding denganku.
Yang aku tahu sejak pertama bertemu dengannya aku berfikir mungkin dialah orang tepat,
seseorang yang tepat untuk memperbaiki hatiku, tempat mencurahkan cinta dan membesarkannya dihatinya.
Tetapi takdir berkata lain aku tak mampu bertahan.
Dia bukanlah jodohku.
Dia bukanlah orang yang bisa memperbaiki hatiku, ya bukan dia orang yang sedang aku tunggu untuk membuat hati ini tetap utuh dan tidak rusak.
Mungkin dia hanyalah sebagian dari lembar kisah cinta dihidupku, untuk membuatku lebih kuat lagi.
Dan hingga sampai saat ini aku masih betah berlama-lama sendiri, bukan tak mampu mencari yang lebih baik hanya saja aku ingin mengistirahatkan hatiku sampai benar-benar ada seseorang yang tepat yang menariknya kembali dan aku bisa melupakan kenangan kenangan pahit.
Bukannya trauma hanya tidak ingin terluka untuk kesekian kalinya.
Maaf aku pernah menyakitimu.
Aku menyayangimu.
Bukannya aku menyesal telah membuatnya pergi, hanya saja ini pertama kalinya aku benar-benar menyakiti hati seseorang.
Bukan menyakitinya lagi bahkan mematahkan hatinya.
Mungkin aku perempuan yang sangat jahat, hanya itu yang aku sesali menyesal pernah menjadi jahat.
Atau mungkin karena entah aku sendiri yang masih terjebak pada rasa galauku.
Bisa jadi karena ada firasat lain yang akan datang dalam waktu dekat ini, aku tak tahu.
Tak tahu bagaimana aku ingin berbagi perasaanku.
Aku ingin mengungkapkan semua kegetiranku saat ini.
Aku masih merasakan debar jantungnya, nyawanya, sentuhan tangannya, lirikan matanya, gertakan marahnya, rengek tangisnya.
Dia pergi karena aku, aku yang memintanya pergi.
Tak tahu harus bagaimana lagi untuk melenyapkannya dari hidupku.
Takdir bicara lain.
Dia tak pernah lagi mau menemuiku.
Jangankan bertemu, tak sengaja berpapasan saja dia sama sekali tidak ingin menatapku.
Mungkin dia sudah sangat membenciku,
"Ya kau berhasil Ayu" seolah ada yang membisikan kalimat itu ke telingaku tetapi ini justru membuatku sakit.
Akan tetapi jika difikir kembali semua hal ini bisa terjadi karena kesalahan kami.
Aku tidak ingin menyalahkannya hanya saja rasa egois dan ingin selalu dapat dimengerti terlalu kuat melekat pada diri kami berdua.
Aku pun tahu sejatinya manusia memiliki rasa egois tetapi tetap pada porsinya masing-masing.
Mungkin ini adalah cara terbaik bagi kami untuk berhenti saling menyakiti, menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah.
Padahal pernah sesekali aku memimpikannya bisa bersanding denganku.
Yang aku tahu sejak pertama bertemu dengannya aku berfikir mungkin dialah orang tepat,
seseorang yang tepat untuk memperbaiki hatiku, tempat mencurahkan cinta dan membesarkannya dihatinya.
Tetapi takdir berkata lain aku tak mampu bertahan.
Dia bukanlah jodohku.
Dia bukanlah orang yang bisa memperbaiki hatiku, ya bukan dia orang yang sedang aku tunggu untuk membuat hati ini tetap utuh dan tidak rusak.
Mungkin dia hanyalah sebagian dari lembar kisah cinta dihidupku, untuk membuatku lebih kuat lagi.
Dan hingga sampai saat ini aku masih betah berlama-lama sendiri, bukan tak mampu mencari yang lebih baik hanya saja aku ingin mengistirahatkan hatiku sampai benar-benar ada seseorang yang tepat yang menariknya kembali dan aku bisa melupakan kenangan kenangan pahit.
Bukannya trauma hanya tidak ingin terluka untuk kesekian kalinya.
Maaf aku pernah menyakitimu.
Aku menyayangimu.
Minggu, 11 Juni 2017
How To Be Single
This story isn't about relationships. It's about all those times in beetween when maybe, just maybe, our real life is happening.
We're embarrassed to admit we're single, and try to pretend that we're not.
We're supposed to act all cheerful and happy about it.
But why should we be embarrassed? We're living longer, marrying later and refusing to leave the party before we're really, really done.
There are a lot of people in this world who need things like you in their lives, to feel complete.
( I am not one of them. I am fine without you ).
I've been thinking that the time we have to be single, is really the time we have to get good at being alone.
But, how good at being alone do we really want to be?
Isn't there a danger that you'II get so good at being single, so set in your ways, that you'II miss out on the chance to be with somebody great?
The thing about being single is you should cherish it. Because, in a week, or a lifetime, of being alone, you may only get one moment. One moment, when you're not tied up in a relationship with anyone. A parent, a pet, a sibling, a friend. One moment, when you stand on your own.
Really, truly single. And then it's gone.
We're embarrassed to admit we're single, and try to pretend that we're not.
We're supposed to act all cheerful and happy about it.
But why should we be embarrassed? We're living longer, marrying later and refusing to leave the party before we're really, really done.
There are a lot of people in this world who need things like you in their lives, to feel complete.
( I am not one of them. I am fine without you ).
I've been thinking that the time we have to be single, is really the time we have to get good at being alone.
But, how good at being alone do we really want to be?
Isn't there a danger that you'II get so good at being single, so set in your ways, that you'II miss out on the chance to be with somebody great?
The thing about being single is you should cherish it. Because, in a week, or a lifetime, of being alone, you may only get one moment. One moment, when you're not tied up in a relationship with anyone. A parent, a pet, a sibling, a friend. One moment, when you stand on your own.
Really, truly single. And then it's gone.
Sabtu, 10 Juni 2017
Aku ingin mencintai dan melupakanmu dengan sederhana
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti embun hinggap
Ditepian daun dan tanah yang sabar menyambutnya jatuh
Tapi aku ingin melupakanmu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti mata yang berkedip
Menyambut pagi dan daun jendela
Yang mengintip sang matahari
Tapi aku ingin melupakanmu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti gerimis pada jendela dan uap nafasmu menulis nama "kita"
Tapi aku ingin melupakanmu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti waktu yang tidak pernah berhenti dan senyum serta tawamu yang selalu mengabadikannya
Tapi aku ingin melupakanmu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti sebuah peluk yang sebentar
Satu kecupan yang perlahan dan tanganmu mencubit pipiku
Tapi aku ingin melupakanmu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti kata "rindu" yang kuucapkan dan kau membalasnya
dengan "aku juga"
Tapi aku ingin melupakanmu
Aku ingin melupakanmu dengan sederhana
Sesederhana air mata yang mengalir
Sesederhana genggam tangan yang terlepas
Tapi aku ingin mencintaimu
Seperti embun hinggap
Ditepian daun dan tanah yang sabar menyambutnya jatuh
Tapi aku ingin melupakanmu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti mata yang berkedip
Menyambut pagi dan daun jendela
Yang mengintip sang matahari
Tapi aku ingin melupakanmu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti gerimis pada jendela dan uap nafasmu menulis nama "kita"
Tapi aku ingin melupakanmu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti waktu yang tidak pernah berhenti dan senyum serta tawamu yang selalu mengabadikannya
Tapi aku ingin melupakanmu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti sebuah peluk yang sebentar
Satu kecupan yang perlahan dan tanganmu mencubit pipiku
Tapi aku ingin melupakanmu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Seperti kata "rindu" yang kuucapkan dan kau membalasnya
dengan "aku juga"
Tapi aku ingin melupakanmu
Aku ingin melupakanmu dengan sederhana
Sesederhana air mata yang mengalir
Sesederhana genggam tangan yang terlepas
Tapi aku ingin mencintaimu
Jumat, 09 Juni 2017
Is the world breaking? Maybe. But we can save it.
My heart is broken to see the world breaking-into pieces of ignorance and lack of empathy.
A world that is cold and distant, ironically unites digitally yet shatters physically.
A lost connection It breaks my heart to smile to faces that do not seem to respond, yet so often use a smilling emoji when conversing on the other land.
Where is sincerity, I ponder. And when you no longer recognize kindness and only strive for competition, where is the joy in life?
has sisterhood traveled too far it is no longer our mantra?
Or perhaps, I was simply playing in the wrong room. Ah yeah. There are still other exciting playrooms.
Not fake, not cold, but warm and genuine. And they are filled with positive energy that shall recharge me over and over again.
I shall then search for one. I believe I can, so I will. Let no one dull my sparkle.
A world that is cold and distant, ironically unites digitally yet shatters physically.
A lost connection It breaks my heart to smile to faces that do not seem to respond, yet so often use a smilling emoji when conversing on the other land.
Where is sincerity, I ponder. And when you no longer recognize kindness and only strive for competition, where is the joy in life?
has sisterhood traveled too far it is no longer our mantra?
Or perhaps, I was simply playing in the wrong room. Ah yeah. There are still other exciting playrooms.
Not fake, not cold, but warm and genuine. And they are filled with positive energy that shall recharge me over and over again.
I shall then search for one. I believe I can, so I will. Let no one dull my sparkle.
Kamis, 08 Juni 2017
Cinta
Ya, tak pernah aku merasakan cinta yang seperti ini.
Cinta yang mengajarkan aku apa arti cinta sesungguhnya.
Cinta yang memotivasi.
Cinta yang menjadikan aku perempuan yang lebih baik.
Cinta yang mengajarkan aku betapa berharganya seseorang yang datang dikehidupan kita saat ini dan ia mengubah segalanya menjadi lebih baik ke arah yang positif.
yang memaknai cinta bukan dengan nafsu, tampan atau cantiknya seseorang, harta, smart bukan itu tapi lebih memaknai cinta dengan inspirasi.
Ya... kamu adalah inspirasiku.
Entah apa yang membuat kamu pantas aku posisikan untuk menjadi inpirasiku karena denganmu aku merasa diriku jauh lebih baik.
Kamu lah seseorang yang dapat membuat aku tersenyum bahagia entah hal bodoh apa yang sering kamu lakukan sehingga aku bisa jatuh cinta denganmu.
Sebelumnya aku berfikir perasaan ini tidak akan bertahan lama, aku pernah berfikir
"Ah paling sebentar lagi aku bisa melupakannya",
"Mungkin tidak hari ini ya aku yakin besok",
"Mungkin sebulan lagi",
Setahun pun berlalu
"Ya, mungkin aku akan segera melupakannya", dalam hati menenangkan.
Tetapi dua tahun pun berlalu dan sampai saat ini aku tidak bisa memberhentikannya perasaan itu.
Perasaan yang dulu aku berfikir akan segera hilang.
Tetapi nyatanya perasaan itu semakin tumbuh, ingin sekali aku memberhentikannya tapi aku tidak bisa.
Aku tidak bisa menerka apakah ada hal yang buruk didirimu sehingga aku bisa membenci dan melupakanmu tetapi jawabannya tidak, aku tidak bisa menemukannya.
Sampai akhirnya perasaan itu semakin dalam.
Ya mungkin suatu saat nanti tidak sekarang ataupun besok aku bisa segera melupakannya.
Mungkin ada yang terbelesit difikiran seseorang saat ini kenapa aku tidak memperjuangkannya kalau dia adalah inspirasimu?
Karena aku berfikir ini perasaan yang salah seharusnya aku tidak boleh mencintainya.
Karena aku yakin ada seseorang yang jauh lebih pantas daripada aku.
Seharusnya hanya ada perasaan kagum yang pernah aku rasakan sebelum-sebelumnya pada orang lain.
Dan perasaan itu beranjak pergi, tapi sayangnya ini bukan hanya perasaan kagum.
Dan sampai saat ini hampir beranjak dua tahun ini aku tidak pernah tahu apa isi hatimu sesungguhnya.
Tidak tahu apa maksud niat baikmu kepadaku yang selalu ada saat aku membutuhkanmu.
Yang memperlakukanku berbeda dari perempuan lainnya.
Membuat aku tertawa di setiap harinya entah itu saat bertemu atau saat kamu mengirimkan messages kepadaku.
Entah apa kamu memang baik atau entahlah hanya kamu yang tahu jawabannya.
Cinta yang mengajarkan aku apa arti cinta sesungguhnya.
Cinta yang memotivasi.
Cinta yang menjadikan aku perempuan yang lebih baik.
Cinta yang mengajarkan aku betapa berharganya seseorang yang datang dikehidupan kita saat ini dan ia mengubah segalanya menjadi lebih baik ke arah yang positif.
yang memaknai cinta bukan dengan nafsu, tampan atau cantiknya seseorang, harta, smart bukan itu tapi lebih memaknai cinta dengan inspirasi.
Ya... kamu adalah inspirasiku.
Entah apa yang membuat kamu pantas aku posisikan untuk menjadi inpirasiku karena denganmu aku merasa diriku jauh lebih baik.
Kamu lah seseorang yang dapat membuat aku tersenyum bahagia entah hal bodoh apa yang sering kamu lakukan sehingga aku bisa jatuh cinta denganmu.
Sebelumnya aku berfikir perasaan ini tidak akan bertahan lama, aku pernah berfikir
"Ah paling sebentar lagi aku bisa melupakannya",
"Mungkin tidak hari ini ya aku yakin besok",
"Mungkin sebulan lagi",
Setahun pun berlalu
"Ya, mungkin aku akan segera melupakannya", dalam hati menenangkan.
Tetapi dua tahun pun berlalu dan sampai saat ini aku tidak bisa memberhentikannya perasaan itu.
Perasaan yang dulu aku berfikir akan segera hilang.
Tetapi nyatanya perasaan itu semakin tumbuh, ingin sekali aku memberhentikannya tapi aku tidak bisa.
Aku tidak bisa menerka apakah ada hal yang buruk didirimu sehingga aku bisa membenci dan melupakanmu tetapi jawabannya tidak, aku tidak bisa menemukannya.
Sampai akhirnya perasaan itu semakin dalam.
Ya mungkin suatu saat nanti tidak sekarang ataupun besok aku bisa segera melupakannya.
Mungkin ada yang terbelesit difikiran seseorang saat ini kenapa aku tidak memperjuangkannya kalau dia adalah inspirasimu?
Karena aku berfikir ini perasaan yang salah seharusnya aku tidak boleh mencintainya.
Karena aku yakin ada seseorang yang jauh lebih pantas daripada aku.
Seharusnya hanya ada perasaan kagum yang pernah aku rasakan sebelum-sebelumnya pada orang lain.
Dan perasaan itu beranjak pergi, tapi sayangnya ini bukan hanya perasaan kagum.
Dan sampai saat ini hampir beranjak dua tahun ini aku tidak pernah tahu apa isi hatimu sesungguhnya.
Tidak tahu apa maksud niat baikmu kepadaku yang selalu ada saat aku membutuhkanmu.
Yang memperlakukanku berbeda dari perempuan lainnya.
Membuat aku tertawa di setiap harinya entah itu saat bertemu atau saat kamu mengirimkan messages kepadaku.
Entah apa kamu memang baik atau entahlah hanya kamu yang tahu jawabannya.
Langganan:
Komentar (Atom)
Bisakah Kaubayangkan Rasanya jadi Aku?
Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa...