Sabtu, 30 September 2017

Ini Tentang Kamu (Flashback)

Kamu mengenalkan namamu begitu saja,
uluran tanganmu dan suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat.
Awalnya, semua berjalan sederhana.
Kita bercanda, kita tertawa, dan membicarakan hal-hal yang manis.
Walaupun segala percakapan itu hanya tercipta melalui pesan singkat BBM.
Perhatian yang mengalir darimu dan pembicara manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa.
Kehadiranmu membawa perasaan lain.

Hal yang berbeda yang kamu tawarkan padaku turut membuka mata dan hatiku dengan lebar.
Aku tak sadar, bahwa kamu datang memberi perasaan aneh.
Ada yang hilang jika sehari saja kamu tidak menyapaku melalui dentingan chat BBM.
Setiap hari ada saja topik menarik yang kita bicarakan, sampai pada akhirnya kita berbicara hal paling menyentuh, yaitu cinta.
Kamu bercerita tentang mantan kekasihmu dan aku bisa merasakan perasaan yang kau rasakan.
Aku berusaha memahami kerinduanmu akan perhatian seorang wanita.
Sebenarnya aku sudah memberikan perhatian itu tanpa kau sadari.
Mungkinkah perhatianku yang sering kuberikan tak benar-benar terasa olehmu?
Aku mendengar ceritamu lagi.
Hatiku bertanya-tanya, seorang pria hanya menceritakan perasaannya pada wanita yang dianggap dekat.
Itu katamu.

Aku bergejolak dan menaruh harap.
Apakah kau sudah menanggap aku sebagai wanita spesial meskipun kita tidak memiliki status dan kejelasan?
Senyumku mengembang dalam diam, segalanya tetap berjalan begitu saja, tanpa kusadari bahwa cinta mulai menyeretku ke arah yang mungkin saja tak kuinginkan.

Saat bertemu kita tak pernah bicara banyak.
Hanya sesekali menatap dan tersenyum penuh arti.
Ketika berbicara di BBM, kita begitu bersemangat, aku bisa merasakan semangat itu melalui tulisanmu.
Sungguh, aku masih tak percaya segalanya bisa berjalan secepat dan sekuat ini.

Aku terus meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini bukan cinta.
Ini hanya ketertarikan sesaat karena aku merasakan sesuatu yang baru dalam hadirmu.
Aku berusaha mempercayai bahwa perhatianmu, candaanmu, dan cara mengungkapkan pikiranmu adalah dasar nyata pertemanan kita.
Ya, sebatas teman, aku tak berhak mengharapkan sesuatu yang lebih.

Perasaanku tumbuh semakin pesat, bahkan tak bisa kukendalikan.
Siapakah yang bisa mengendalikan perasaan?
Siapakah yang bisa menebak perasaan cinta bisa jatuh pada orang yang tepat ataupun salah?
Aku tidak sepandai dan secerdas itu.
Aku hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu.
Aku hanya wanita yang takut kehilangan seseorang yang tak pernah aku miliki.

Salahku memang jika mengartikan tindakanmu sebagai cinta.
Tapi aku juga tidak salah, jika berharap bahwa kamu juga punya perasaan yang sama.
Kamu sudah jadi sebab tawa dan senyumku, aku percaya kau tak mungkin membuatku sedih dan kau tak akan jadi sebab air mataku.
Aku percaya kaulah kebahagiaan baru yang akan memberiku sinar paling terang.
Aku sangat mempercayaimu. sangat! Dan, itulah kebodohan yang harus kusesali.

Ternyata, ketakutanku terjawab sudah.
Kamu menjauhiku tanpa alasan yang jelas.
Kamu pergi tanpa ucapan pisah dan pamit.
Aku terpukul dengan keputusan itu, tapi pantaskah aku marah?

Aku tak pernah jadi siapa-siapa bagimu, mungkin aku hanya persinggahan, bukan tujuan.
Kalau kau ingin tahu, aku sudah merancang berbagai mimpi indah yang ingin kuwujudkan bersamamu.
Mungkin, suatu saat nanti, jika Tuhan izinkan, aku percaya kita pasti bisa saling membahagiakan.

Aku tak punya hak untuk memintamu kembali, juga tak punya wewenang untuk memintamu segera pulang.
Masih adakah yang perlu kupaksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan?
Tidak munafik aku merasa kehilangan.
Dulu aku terbiasa dengan candaan dan perhatian kecilmu, namun segalanya tiba-tiba hilang menguap, bagai asap rokok yang hilang ditelan gelapnya malam.

Sesungguhnya ini juga salahku yang bertahan dalam diam meskipun aku punya perasaan yang lebih dalam dan kuat.
Ini bukan salahmu dan juga bukan kesalahannya.
Tapi, tak mungkin matamu terlalu buta dan hatimu terlalu cacat unuk tahu bahwa aku mencintaimu.

Aku harus belajar tidak peduli.
Aku harus belajar memaafkan, juga merelakan.
Karena nampaknya kamu sudah bahagia, bersama dia- sahabatku.
Terima kasih. Untuk segala luka.
Yang tidak kutemukan obatnya.

Bisakah Kaubayangkan Rasanya jadi Aku?

Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa...