Minggu, 27 Mei 2018

Bisakah Kaubayangkan Rasanya jadi Aku?


Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku.
Setiap malam, sebelum tidur,
kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu.
Tawa kecilmu, kecupan berbentuk tulisan,
dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam.
Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk memendam.

Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang,
itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi.
Proses yang panjang itu ternyata tak terjadi, pertama kali melihatmu;
Aku tahu suatu saat nanti kita bisa berada di status yang lebih spesial.
Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat.
Semua begitu bahagia.... dulu.

Aku sudah berharap lebih.
Kugantungkan harapanku padamu.
Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu.
Sayangnya, semua hal itu seakan tak kaugubris.
Kamu di sampingku, tapi getaran yang kuciptakan seakan tak benar-benar kaurasakan.
Kamu berada di dekatku, namun segala perhatianku seperti menguap tak berbekas.
Apakah kamu benar tidak memikirkan aku?
Bukankah kata teman-temanmu,
Kamu adalah perenung yang memikirkan sesuatu yang begitu dalam?
Temanmu bilang, kamu melankolis, senang memendam, dan enggan bertindak banyak.
Kamu lebih senang menunggu.
Benarkah kamu memang menunggu?
Apalagi yang kautunggu jika kausudah tahu bahwa aku mencintaimu?

Tak mungkin kautak tahu ada perasaan aneh di dadaku.
Tak mungkin kautak memahami perjuangan yang kulakukan untukmu.
Kamu ingin tahu rasanya seperti aku?
Dari awal, ketika kita pertama kali berkenalan, aku hanya ingin melihatmu bahagia.
Senyummu adalah salah satu keteduhan yang paling ingin kulihat setiap hari.
Dulu, aku berharap bisa menjadi salah satu sebab kautersenyum setiap hari,
tapi ternyata harapku terlalu tinggi.

Semua telah berakhir. Tanpa ucapan pisah.
Tanpa lambaian tangan. Tanpa kaujujur mengenai perasaanmu.
Perjuanganku terhenti karena aku merasa tak pantas lagi berada di sisimu.
Sudah ada seseorang yang baru, yang nampaknya jauh lebih baik dan sempurna daripada aku.
Tentu saja, jika dia tak sempurna—kautak akan memilih dia menjadi satu-satunya bagimu.

Setelah tahu semua itu,
apakah kamu pernah menilik sedikit saja perasaanku?
Ini semua terasa aneh bagiku.
Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa,
meskipun berada dalam ketidakjelasan, tiba-tiba menjauh tanpa sebab.
Aku yang terbiasa dengan sapaanmu di pesan singkat
harus (terpaksa) ikhlas karena akhirnya kamu sibuk dengan kekasihmu.
Aku berusaha memahami itu. Setiap hari. Setiap waktu.
Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua sudah berakhir
dan aku tak boleh lagi berharap terlalu jauh.

Jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan,
Aku tak ingin perkenalan kita terjadi.
Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama.
Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis.
Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi
jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini.

Kalau kauingin tahu bagaimana perasaanku,
seluruh kosakata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan.
Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti.
Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan.
Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kaupaham? Belum. Tentu saja.
Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu,
Aku selalu tak punya tempat dalam hatimu.

Setiap hari, setiap waktu, setiap aku melihatmu dengannya;
Aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja.
Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu.
Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang,
Aku memimpikan lukaku akan segera kering,
dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam.
Namun.... sampai kapan aku harus terus mencoba?

Sementara ini saja, aku tak kuat melihatmu menggenggam jemarinya.
Sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kamu yang begitu kucintai
ternyata malah memilih pergi bersama yang lain.
Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu.

Seandainya kamu bisa membaca perasaanku
dan kamu bisa mengetahui isi otakku,
mungkin hatimu yang beku akan segera mencair.
Aku tak tahu apa salahku sehingga kita yang baru saja kenal,
baru saja mencicipi cinta,
tiba-tiba terhempas dari dunia mimpi ke dunia nyata.
 
Aku menulis ini ketika mataku tak kuat lagi menangis.
Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh.
Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir,
meskipun tak pernah benar-benar tinggal.
Seandainya kautahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku,
mungkin kamu akan berbalik arah—memilihku sebagai tujuan.
Tapi, aku hanya persinggahan, tempatmu meletakan segala kecemasan,
lalu pergi tanpa janji untuk pulang.

Semoga kautahu, aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu.
Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari,
ketika kulihat kamu bersama kekasih barumu.
Aku berusaha keras, setiap hari,
menerima kenyataan yang begitu kelam.

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka,
hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang mencintainya?
Bisakah kaubayangkan rasanya jadi aku yang setiap hari harus melihatmu dengannya? 
Bisakah kaubayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari,
menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?

Kamu tak bisa. Tentu saja. Kamu tidak perasa.

Kamis, 08 Februari 2018

Ketika Aku Mulai Memahamimu

Awalnya, ini hanya perasaan kagum yang tak begitu aku pedulikan,
tapi ternyata aku salah; perasaan ini berkembang menjadi rasa takut
kehilangan yang sulit kuhindari.
Aku mulai menyayangimu tanpa sepengetahuanmu.
Semua berjalan seperti biasa dan aku semakin menikmati keadaan kita
yang entah harus diberi nama dengan status apa.

Aku tak pernah takut saat mencintaimu.
Layaknya air laut yang mengikuti lekuk gelombang,
seperti itulah aku membiarkan rasa cintaku terus mengalir tanpa kendali.
Percakapan setiap malam yang kamu selipkan lewat pesan singkat
mampu menyeretku ke perasaan yang dulu sangat ingin kuhindari; cinta.
Kamu membuka mataku dengan tindakanmu yang ajaib,sampai-sampai
aku tak lagi paham alasan yang harus kujelaskan;
mengapa aku bisa begitu menggilaimu?

Cinta ini sangat tulus. Sungguh.
Tak ada penuntutan yang kulakukan,aku juga tak mengganggumu,
dan aku juga tak minta status serta kejelasan.
Aku tidak seberani itu kan? Kamu mengetahuiku juga mengenalku,
tak mungkin jika kamu tak menyadari ada perasaan berbeda dalam hatiku.
Aku bisa menebak matamu, ketika kamu bercerita tentang dunia
yang ingin kamu singgahi, saat kamu membawaku ke dalam
dunia ceritamu yang sudah mulai kupahami.
Aku berusaha memahami kemisteriusanmu.

Aku merasa sudah mulai memahami.
Aku merasa punya kesempatan untuk sedikit mencicipi
hidup menyenangkan bersamamu.
Aku sanggup mengisi hari-harimu dengan kebahagiaan baru.
Tapi, ternyata kita tak sejalan.
Perhatian yang kusediakan khusus untukmu seakan menguap tak berbekas.
Rasa cinta yang kuperjuangkan dengan sangat demimu seolah-olah
tak pernah mampir sedikit di dalam benakmu.
Kamu biarkan aku mengejar bayangan,
sementara kenyataan yang sesungguhnya entah kamu sembunyikan dimana.
Batas kebahagiaan yang dulu kamu jelaskan secara utuh padaku;
kini buram dan hitam.

Tidak mungkin kamu tidak tahu bahwa aku mencintaimu.
Tidak mungkin kamu tidak memahami perhatian dan tindakanku.
Tidak mungkin hatimu begitu buta untuk mengartikan segalanya yang kurasakan
terhadapmu adalah cinta! Apakah hatimu sengaja kamu kunci rapat untukku?

Langkahku terus mencoba menggapaimu,
jemariku merasa menggenggam tanganmu; namun, ternyata semua kosong.
Kukira percakapan kita adalah hal yang spesial bagimu.
Kusangka, semua perlakuanmu terhadapku adalah bukti
bahwa kamu menganggapku istimewa.
Nyatanya, aku salah menafsirkan.
Bagimu, aku bukan siapa-siapa dan tak berarti apa-apa.

Aku tak bisa menahanmu pergi.
Bahkan, ketika kamu memilih habiskan kebahagiaanmu bersama yang lain,
kemudian membiarkan aku sendirian.
Tanpa mengucapkan pisah dan tanpa kamu tahu sudah ada
yang tumbuh diam-diam dihatiku; cinta.

Ternyata, aku belum benar-benar memahamimu.
Ternyata, aku belum benar-benar mengenalmu.
Ternyata, kamu yang kuperjuangkan dengan sangat mendalam;
TAK SEHEBAT YANG KUBAYANGKAN.

Rabu, 20 Desember 2017

Menunggumu

Bagaimana aku bisa jatuh cinta padamu?
Kenapa ini begitu terasa sangat sakit?
Aku tak pernah menginginkan seseorang seperti ini
Dapatkah aku mencintaimu jika aku katakan cinta padamu ratusan kali?
Apakah kau tahu jika hatiku menangis dan memohon sia-sia?

Haruskah aku mencoba membenci namamu ratusan kali?
Perlukah aku menghitung berapa banyak rasa sakit?
Cintaku telah tumbuh terlalu dalam

Mengapa engkau tinggal dan bersembunyi di hatiku?
Ini sudah menjadi duri yang sangat tajam
Hingga aku tak sanggup melepaskannya

Sesungguhnya aku ingin menyimpanmu
Aku tidak bisa memberikanmu untuk perempuan lain
Untukku hanya ada kamu
Jika bukan kamu menyendiri lebih baik untukku.

Jumat, 08 Desember 2017

Seandainya

Jika aku tidak pernah bertemu dengannya,
Aku pasti tidak akan merindukannya.

Jika aku tidak pernah mengenalnya,
Aku pasti tidak akan selalu memikirkan dirinya.

Jika kita tidak pernah bersama,
Aku pasti tidak akan meninggalkanmu.

Jika aku tidak mencintainya,
Aku pasti tidak perlu mengingat dirinya.

Jika aku tidak mencintainya,
Kita tidak perlu saling berpisah.

Jika kita tidak pernah bertemu,
Pasti kita tidak akan pernah bisa bersama.

Seandainya aku tidak pernah bertemu denganmu.

- Mr.M -

Rabu, 22 November 2017

Cinta Dalam Diam Menurut Islam

Kalau kita menyukai seseorang,
Jangan beritahu si dia.
Nanti Allah kurangi rasa cinta padanya.
Tapi luapkan pada Allah,
Beritahulah Allah.
Allah Maha mengetahui siapa jodoh kita.


Cintai Dia Dalam Diam,
Dari Kejauhan Dengan Kesederhanaan & Keikhlasan
Jika benar cinta itu karena Allah maka biarkanlah ia mengalir mengikuti aliran Allah karena hakikatnya ia berhulu dari ALLAH maka ia pun berhilir hanya kepada ALLAH.

"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran ALLAH."
(Adz Dzariyat: 49)

Tetapi jika kelemahan masih nyata dipelupuk mata maka bersabarlah, berdoalah & berpuasalah.

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji.
Dan suatu jalan yang buruk. "
(Al Israa ': 32)

Ketika kau mendambakan sebuah cinta sejati yang tak kunjung datang,
Allah SWT memiliki Cinta dan Kasih yang lebih besar dari segalanya & Dia telah menciptakan seseorang yang akan menjadi pasangan hidupmu kelak.

Ketika kau merasa bahwa kau mencintai seseorang,
namun kau tahu cintamu tak terbalas
Allah SWT tahu apa yang ada di depanmu & Dia sedang mempersiapkan segala yang terbaik untukmu.

Cukup cintai dalam diam
bukan karena membenci hadirnya
tetapi menjaga kesuciannya
bukan karena menghindari dunia
tetapi meraih surga-NYA
bukan karena lemah untuk menghadapinya
tetapi menguatkan jiwa dari godaan setan yang begitu halus dan menyelusup
Cukup cintai dari kejauhan
karena hadirmu tiada kan mampu menjauhkan dari ujian
karena hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan
karena mungkin membawa kelalaian hati-hati yang terjaga.

Cukup cintai dengan kesederhanaan
Memupuknya hanya akan menambah penderitaan
menumbuhkan harapan hanya akan membumbui kebahagiaan para setan
Cintailah dengan keikhlasan.

Karena tentu kisah Fatimah dan Ali Bin Abi Thalib diinginkan oleh hati
tetapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi ..??

".. bisa jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. "
(Al Baqarah: 216)

Jangan memberi harapan pada yang belum pasti,
kelak ada insan yang akan dilukai,
Jangan menaruh harapan pada yang belum tentu dimiliki,
nanti hati yang kecewa sendiri.

Sebaliknya,
gantunglah segenap pengharapanmu kepada Yang Maha Memberi,
niscaya dirimu tak sesekali dizalimi,
karena Dia mendengar pengharapanmu setiap kali & Dia menunaikannya dgn cara-Nya sendiri
Cukup cintai dalam diam dari kejauhan dengan kesederhaan & keikhlasan
Karena tidak ada yang tahu rencana Tuhan
mungkin saja rasa ini adalah ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan
Karena hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikkan
serahkan rasa itu pada Yang Memberi dan Memilikinya
biarkan DIA yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya.

"Barangsiapa yang menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga."
(Umar Bin Khattab)

If you really love her, you won’t touch her.
Not even the slightest bit.
You’ll protect her dignity and sacredness as a muslimah.
Just hold her in your heart for a few more years ..
then you can do it the halal way

"Siapa saja yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah & menikah karena Allah, maka berarti ia telah sempurna imannya."
(HR. Al-Hakim)

P / S PDH: Sebelum tiba waktunya untuk kamu halal bersama si dia, tahanlah hatimu.
Tahanlah perasaanmu. Jika perasaan itu tidak tertahan lagi,
coretkan segala isi hatimu tentang cinta & rindu, tentang doa & harapanmu padanya dalam tulisan.
Dan simpanlah tulisan yang tidak beralamat itu sebaik mungkin.
Bila tiba saatnya kamu disatukan, maka serahkanlah segala isi hatimu itu padanya.
Dia pasti bahagia menerimanya, tapi jika waktu itu belum tiba.
Biarlah ia menjadi RAHASIA antara dirimu dan Sang Pencipta saja karena kelak jika dia bukan milikmu, bakarlah coretan itu bersama hilangnya wajah si dia dari hatimu.

Sumber:http://blogdkiffua.blogspot.co.id/2011/11/cukuplah-aku-mencintai-dalam-diam.html

Sabtu, 30 September 2017

Ini Tentang Kamu (Flashback)

Kamu mengenalkan namamu begitu saja,
uluran tanganmu dan suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat.
Awalnya, semua berjalan sederhana.
Kita bercanda, kita tertawa, dan membicarakan hal-hal yang manis.
Walaupun segala percakapan itu hanya tercipta melalui pesan singkat BBM.
Perhatian yang mengalir darimu dan pembicara manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa.
Kehadiranmu membawa perasaan lain.

Hal yang berbeda yang kamu tawarkan padaku turut membuka mata dan hatiku dengan lebar.
Aku tak sadar, bahwa kamu datang memberi perasaan aneh.
Ada yang hilang jika sehari saja kamu tidak menyapaku melalui dentingan chat BBM.
Setiap hari ada saja topik menarik yang kita bicarakan, sampai pada akhirnya kita berbicara hal paling menyentuh, yaitu cinta.
Kamu bercerita tentang mantan kekasihmu dan aku bisa merasakan perasaan yang kau rasakan.
Aku berusaha memahami kerinduanmu akan perhatian seorang wanita.
Sebenarnya aku sudah memberikan perhatian itu tanpa kau sadari.
Mungkinkah perhatianku yang sering kuberikan tak benar-benar terasa olehmu?
Aku mendengar ceritamu lagi.
Hatiku bertanya-tanya, seorang pria hanya menceritakan perasaannya pada wanita yang dianggap dekat.
Itu katamu.

Aku bergejolak dan menaruh harap.
Apakah kau sudah menanggap aku sebagai wanita spesial meskipun kita tidak memiliki status dan kejelasan?
Senyumku mengembang dalam diam, segalanya tetap berjalan begitu saja, tanpa kusadari bahwa cinta mulai menyeretku ke arah yang mungkin saja tak kuinginkan.

Saat bertemu kita tak pernah bicara banyak.
Hanya sesekali menatap dan tersenyum penuh arti.
Ketika berbicara di BBM, kita begitu bersemangat, aku bisa merasakan semangat itu melalui tulisanmu.
Sungguh, aku masih tak percaya segalanya bisa berjalan secepat dan sekuat ini.

Aku terus meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini bukan cinta.
Ini hanya ketertarikan sesaat karena aku merasakan sesuatu yang baru dalam hadirmu.
Aku berusaha mempercayai bahwa perhatianmu, candaanmu, dan cara mengungkapkan pikiranmu adalah dasar nyata pertemanan kita.
Ya, sebatas teman, aku tak berhak mengharapkan sesuatu yang lebih.

Perasaanku tumbuh semakin pesat, bahkan tak bisa kukendalikan.
Siapakah yang bisa mengendalikan perasaan?
Siapakah yang bisa menebak perasaan cinta bisa jatuh pada orang yang tepat ataupun salah?
Aku tidak sepandai dan secerdas itu.
Aku hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu.
Aku hanya wanita yang takut kehilangan seseorang yang tak pernah aku miliki.

Salahku memang jika mengartikan tindakanmu sebagai cinta.
Tapi aku juga tidak salah, jika berharap bahwa kamu juga punya perasaan yang sama.
Kamu sudah jadi sebab tawa dan senyumku, aku percaya kau tak mungkin membuatku sedih dan kau tak akan jadi sebab air mataku.
Aku percaya kaulah kebahagiaan baru yang akan memberiku sinar paling terang.
Aku sangat mempercayaimu. sangat! Dan, itulah kebodohan yang harus kusesali.

Ternyata, ketakutanku terjawab sudah.
Kamu menjauhiku tanpa alasan yang jelas.
Kamu pergi tanpa ucapan pisah dan pamit.
Aku terpukul dengan keputusan itu, tapi pantaskah aku marah?

Aku tak pernah jadi siapa-siapa bagimu, mungkin aku hanya persinggahan, bukan tujuan.
Kalau kau ingin tahu, aku sudah merancang berbagai mimpi indah yang ingin kuwujudkan bersamamu.
Mungkin, suatu saat nanti, jika Tuhan izinkan, aku percaya kita pasti bisa saling membahagiakan.

Aku tak punya hak untuk memintamu kembali, juga tak punya wewenang untuk memintamu segera pulang.
Masih adakah yang perlu kupaksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan?
Tidak munafik aku merasa kehilangan.
Dulu aku terbiasa dengan candaan dan perhatian kecilmu, namun segalanya tiba-tiba hilang menguap, bagai asap rokok yang hilang ditelan gelapnya malam.

Sesungguhnya ini juga salahku yang bertahan dalam diam meskipun aku punya perasaan yang lebih dalam dan kuat.
Ini bukan salahmu dan juga bukan kesalahannya.
Tapi, tak mungkin matamu terlalu buta dan hatimu terlalu cacat unuk tahu bahwa aku mencintaimu.

Aku harus belajar tidak peduli.
Aku harus belajar memaafkan, juga merelakan.
Karena nampaknya kamu sudah bahagia, bersama dia- sahabatku.
Terima kasih. Untuk segala luka.
Yang tidak kutemukan obatnya.

Sabtu, 22 Juli 2017

Aku berhenti

Aku mencintainya,
Cinta yang berusaha kusembunyikan dalam setiap sikap dinginku.
Ini munafik.
Sungguh.
Aku berusaha membuatnya merasa bahwa segalanya baik-baik saja.
Meskipun yang kurasakan saat ini adalah perasaan yang bahkan kata pun tak mampu mendeskripsikannya.
Kalau kamu pikir aku bodoh, aku memang sudah lama bodoh seperti ini.
Sejak mengenal kamu, mungkin aku tambah bodoh.

Kamu datang pada saat yang tepat, saat hatiku hampir terkunci rapat.
Aku memang sedang membutuhkan laki-laki sepertimu,
Yang entah mengapa kamu selalu berhasil menghiburku.
Sosok itu kutemukan dalam dirinya yang sampai saat ini aku masih bertanya-tanya apakah ada seseorang yang bisa menggantikannya? Kalau saja dia bukanlah milikku?
Dan sampai saat ini pun aku tidak bisa menerka apakah ada sesuatu yang jahat di dalam dirimu? Apakah ada kekurangan dalam dirimu? Selalu itu yang masih menjadi tanda tanya besar diotakku.
Tetapi, jawabannya tidak ada.
Kamu terlalu sempurna untuk aku miliki.

Jatuh cinta diam-diam.
Saling merasakan, tapi belum ada yang mau mengungkapkan.
Meski keduanya saling tahu bahwa bagi satu sama lain, keduanya bukan sekadar teman.
Dia yang selalu membuatku tersenyum ketika aku membayangkannya,
Dia yang sering membuatku tertawa dalam hati ketika mengingat percakapan bersamanya,
Dia yang membuat jantungku berdebar cepat saat kurangkai tatapan matanya yang hangat di dalam benakku.
Sebenarnya, aku berbohong.
Aku selalu takut kehilangan dia, sosok yang belum benar-benar kumiliki.
Aku tak selalu di sampingnya, tak selalu bertukar kabar dengannya,
Tapi rindu seperti punya kendali khusus.
Aku tidak bisa menolak untuk tidak mencintai dan merindukannya.

Aku senang menulis tentang kamu karena dalam tulisan, sosok kamu bisa abadi.
Perempuan kadang tak berterus terang tentang apa yang ada dalam hatinya.
Aku kira kamu memahami hal itu, ternyata tidak.
Kita terlalu egois untuk menyatakan perasaan, sama-sama bertahan dengan anggapan masing-masing, dan tidak tahu yang sebenarnya terjadi.
Mungkin sudah saatnya aku menyerah.
Perasaan ini terlalu kuat untuk kukalahkan.

Aku berhenti mencintaimu...

Bisakah Kaubayangkan Rasanya jadi Aku?

Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa...